24 September 2005

The Phantom of the Opera: Ada Hantu Buruk Rupa di Paris Opera House

Malam itu, ulang tahun ke-8 perkawinan kami, akan dirayakan dengan menikmati opera musikal Phantom of the Opera di kota London. Tepat seminggu sebelumnya, saya sudah memesan tiket lewat lewat internet seharga 35 pounds per orangnya. Bukan nilai yang murah apalagi jika disetarakan dengan nilai rupiah yang saat itu nilainya lebih dari Rp. 18,000 per poundsterling. Tapi janji yang diucapkan sepuluh tahun yang lalu pada calon istri untuk menikmati Phantom of the Opera di panggung aslinya sudah hampir kadaluarsa. Mumpung kami sedang berada di Inggris, janji ini tepat waktunya untuk dipenuhi.

Kami tiba di stasiun King's Cross London sekitar pukul setengah enam sore dari kota kecil Sandy tempat kami tinggal sementara ini. Masih sekitar dua jam dari waktu pertunjukan dimulai. Jadilah waktu luang itu kami manfaatkan untuk makan angin di Leicester Square pusat hiburan kota London serta mencari ganjalan perut agar tidak kelaparan saat menikmati pertunjukkan malam nanti.

London di akhir musim panas itu sangatlah ramai dikunjungi wisatawan, baik dari manca negara maupun dari pelosok negeri Inggris sendiri. Teror bom yang menimpa bulan Juli lalu tidak menyurutkan langkah penikmat kota London mencari hiburan di tengah kota ini. Ke-empat bom yang meledak tanggal 7 Juli dan rangkaian percobaan pemboman dua minggu berikutnya terjadi di sekitar zona pusat kota London. Namun malam itu, tidak tampak ada kerisauan dan rasa takut pada raut muka orang yang kami jumpai. Semua wajah berbagai bangsa terlihat ceria, tanpa rasa takut terpancar dari raut muka.

Sambil berjalan-jalan, telinga kami disinggahi oleh banyak jenis bahasa dari celoteh dan percakapan orang yang berjalan beriringan atau berpapasan dengan kami. Dari bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Spanyol, Melayu, Itali, Hindi, Urdu, Belanda sampai bahasa Arab menghampiri telinga kami tanpa disengaja. Ya, kota London banyak dihuni dan disinggahi manusia berbagai bangsa. Hasil sensus penduduk kota London menunjukkan bahwa tanpa turis saja, kota London sudah menjadi pusat berkumpulnya manusia dari berbagai ras dan asal negara. Apalagi jika ditambah dengan ribuan turis asing dan lokal yang datang berkunjung setiap hari. London adalah kota yang benar-benar metropolis multi rasial.

Sambil menikmati ayam goreng halal yang dijual di sudut Leicester Square , kami menikmati suasana sore di taman depan bioskop-bioskop terkenal yang ada di sana. Odeon, UCI Empire, dan Vue adalah bioskop yang berdiri megah dengan film-film terbaru yang diputar di dalamnya. Di sinilah biasanya dilakukan pemutaran perdana film-film box office, lengkap dengan hamparan karpet merah, dihadiri oleh bintang-bintang film ternama berpakaian mencolok diserbu gerombolan wartawan TV dan media cetak yang mengacungkan microphone dan lensa kamera mereka.

Pukul tujuh malam, pergilah kami melangkahkan kaki ke gedung Her Majesty's Theatre di kawasan Haymarket, yang letaknya sepelemparan batu dari Piccadilly Circus underground station. Kami siap menyambangi sang Phantom, si Hantu yang pandai bernyanyi.

Phantom of the Opera adalah judul pertunjukan yang akan kami nikmati malam ini. Lakonnya diadaptasi dari novel berjudul asli Le Fantome de l'Opera hasil karya pengarang Perancis bernama Gaston Leroux yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1910. Walau Gaston Leroux lebih dikenal sebagai penulis novel detektif, cerita ini adalah sebuah cerita cinta segitiga antara Raoul (Vicomte de Chagny), Christine Daae, dan Phantom seorang jenius buruk rupa yang hidup di kegelapan lorong-lorong dasar sebuah gedung pertunjukan opera. Beberapa sutradara film telah mengadaptasi novel ini menjadi tontonan di layar perak. Terakhir versi opera musikal Phantom of the Opera dibawa ke layar lebar oleh Joel Schumacher dengan judul yang sama. Belakangan DVD-nya sudah beredar lengkap dengan cerita di belakang layar pembuatan film ini.

Setting cerita Phantom of the Opera adalah Paris Opera House, sebuah gedung megah yang benar-benar ada di kota Paris. Gedung yang saat ini dikenal dengan nama "Palais Garnier" dibangun pada antara tahun 1857-1874 atas dasar rancangan arsitek Charles Garnier. Gedung ini dibangun sedemikian megah dan besar, lengkap dengan kamar-kamar tempat tinggal para pemain dan pendukung opera, panggung, lobby, gudang, sampai ruang-ruang tersembunyi di bawah tanah yang dijadikan setting ruang tempat tinggal sang Phantom. Sebuah lampu gantung besar dan indah melengkapi kecantikan ruang pementasan utama gedung ini. Jauh di dasar gedung bahkan terdapat sebuah reservoir air berupa danau bawah tanah, yang sengaja dibuat untuk menampung keberadaan air bawah tanah di sana.

Pukul 19:30 tepat, show dimulai dengan set suasana lelang barang antik, dengan benda utama lampu gantung antik, yang rusak terkena musibah kebakaran besar di Paris Opera House. Dari situ, cerita berjalan mundur ke jaman keemasan Paris Opera House.

Alkisah, Christine Daae, seorang yatim cantik anak pemusik terkenal biola asal Swedia, bersinar namanya di panggung Paris Opera house karena alunan lagunya yang luar biasa. Tidak ada yang tahu siapa yang mengajarnya bernyanyi seindah itu. Hanya Christine yang tahu jika ia belajar bernyanyi pada si Phantom yang dikiranya adalah spirit sang ayah yang selalu turut bersamanya.

Raoul, sang bangsawan muda pelindung Paris Opera House, ternyata adalah teman main masa kecil Christine yang masih memendam rasa cinta masa kecilnya, apalagi ditambah dengan kecantikan dan kepandaian Christine bernyanyi saat ini.

Di Opera House itu sudah lama beredar rumor tentang adanya sosok misterius, si Phantom yang kerap meninggalkan surat bertanda O.G. (singkatan dari Opera Ghost). Nama asli dari Phantom adalah Erick, seorang yang menyeramkan rupanya karena terkena infeksi pada wajah sewaktu kecil. Buruk rupa wajahnya digunakan suatu kelompok Gypsy untuk dipertontonkan pada umum dengan imbalan uang recehan. Tidak tahan diperlakukan semena-mena ia pun kabur dan lari bersembunyi di dasar Paris Opera House, sambil mengasah kemampuannya menyanyi dan mengarang lagu. Untuk menutup wajahnya yang rusak, ia selalu mengenakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya.

Kedekatan Raoul dengan Christine membuat sang Phantom cemburu. Phantom sudah lama jatuh hati pada anak didiknya yang ia sudah latih bernyanyi semenjak kecil. Kecemburuan membuatnya beringas, sehingga melakukan berbagai keonaran demi memenangkan cintanya pada Christine. Ia pernah membakar gedung, menjatuhkan lampu gantung besar di atas panggung, bahkan tega membunuh petugas pengerek layar di sana.

Raoul dan pengelola opera kemudian bersepakat mencari jalan untuk mencari tahu siapa si Phantom keji itu. Mereka melayani permintaan phantom untuk mementaskan karya akbar sang Phantom yang berjudul Don Juan Triumphant di opera mereka. Walaupun sebenarnya tidak ingin melakukan permintaan itu, Raoul tahu bahwa jika lakon itu dipentaskan, sang Phantom pasti akan muncul dan kesempatan untuk menangkapnya akan terbuka luas.

Ketika pergelaran Don Juan Triumphant dilaksanakan dengan Christine sebagai pemeran utama wanitanya, Phantom bereaksi dengan membunuh pemeran utama pria dan langsung menggantikan perannya menyanyi bersama Christine di panggung. Di panggung, Christine kemudian membuka kedok yang menutupi wajah rusak sang Phantom. Ketahuan belangnya, Phantom menyeret Christine lari ke ruang persembunyiannya di dasar Opera House.

Raoul mengejar mereka ke relung-relung dasar gedung, disertai rombongan polisi dan petugas opera yang sudah bersiap menangkap sang Phantom hidup atau mati. Di bawah tanah, Phantom berhasil menundukkan dan mengikat leher Raoul ke jeruji pagar. Ia siap menggantung Raoul jika Christine tidak mengalihkan cinta padanya.

Dalam kondisi terdesak, Christine semakin menyadari betapa buasnya hati Phantom. Namun cintanya pada Raoul sudah bulat. Demi kekasih hatinya, ia pun rela menyerahkan diri pada Phantom sebagai penebus nyawa Raoul.

Melihat sikap Christine, diluar dugaan, Phantom menjadi luluh hatinya sehingga melepas Raoul dan Christine pergi. Kesedihannya akan kekuatan cinta Christine membuat Phantom memutuskan untuk menghilang dari Paris Opera House, dan dari kehidupan Christine dan Raoul untuk selamanya.

Seluruh kisah yang diceritakan itu dilantunkan dalam nada-nada musikal karangan Andrew Lloyd Webber. Lirik lagunya disusun oleh Charles Hart dan Richard Stilgoe. Awalnya, Andrew Lloyd Webber menciptakan lagu-lagu tersebut dengan menggunakan suara Sarah Brightman yang waktu itu adalah istrinya sendiri sebagai pedoman karakter suara. Alhasil semua lagu yang ada dalam pertunjukkan ini sangat dapat dinikmati. Perpaduan nada lagu operatic dengan beat rock dan iringan orkestra langsung. Sebanyak 20 orang musisi dipimpin seorang conductor mengiringi para aktor panggung bernyanyi. Mereka duduk bersempit-sempit di ruangan antara penonton dengan panggung.

Malam itu, Phantom diperankan oleh Earl Carpenter, Christine Daae oleh Celia Graham, dan Raoul oleh Oliver Thornton. Mereka adalah pemain teater professional yang sehari-hari berprofesi sebagai anak panggung dunia seni di kota London . Earl Carpenter menjadi bintang malam itu yang secara sempurna memainkan perannya sebagai Phantom. Suaranya yang lantang menggelegar kadang diimbangi dengan desahan dan bisikan cinta sang hantu opera pada Christine Daae.

Celia Graham sebagai Christine memegang peran sentral pada keseluruhan cerita. Ia ada pada hampir semua bagian cerita. Ia menari ballet, menyanyi, berakting namun juga sedih ketika dipaksa Phantom untuk menerima cintanya.

Penonton duduk terbagi pada 3 bagian; lantai dasar, dan dua balkon. Ditilik dari rupa, dandanan, dan bahasanya, penonton malam itu berasal dari banyak negara. Di belakang kursi kami berjajar wanita penonton dari Jepang. Disisi kami duduk satu keluarga yg dari gaya bahasanya menunjukkan mereka berasal dari Amerika Serikat. Agak jauh sedikit tampak pula seorang wanita Timur Tengah berkerudung turut menikmati karya malam itu.

Pada setiap malam pertunjukkan ada 9 tokoh utama yang memainkan peran cukup penting, dibantu oleh sejumlah pemeran panggung dan penari ballet. Total dalam semalam ada 39 orang artis tampil dalam pertunjukkan tersebut.

Di belakang layar, tentunya pertunjukkan ini didukung oleh penata rias, penata busana, dan teknisi yang mengatur setting panggung, mengoperasikan special effect. Jumlahnya mungkin sama banyak dengan jumlah artis panggungnya.

Sewaktu jeda antara dua babak pertunjukkan, penonton dipersilahkan untuk beristirahat, membeli minuman, es krim, atau hanya sekedar meregangkan badan. Selain itu petugas pertunjukkan menjual pula berbagai cendera mata yang berhubungan dengan phantom of the opera. Harga-harganya cenderung selangit. Tshirt misalnya dihargai £20 (Rp. 360,000). Benda kenangan paling murah yang tersedia adalah pin penghias baju seharga £2.5 (Rp. 45.000).

Pukul sepuluh malam, show berakhir. Kami melangkah pulang menuju stasiun King's Cross dengan menyenandungkan lagu Music of the Night yang dinyanyikan oleh sang Phantom.

Nighttime sharpens, heightens each sensation

Darkness stirs and wakes imagination

Silently the senses abandon their defences

……………………….

6 Comments:

Anonymous Anonymous said...

whaaa..asyiknya yang nonton berdua opera..btw..anak anak ditaro dimana mas dono :D

*)Iin

9:46 pm  
Anonymous Anonymous said...

Dono Widi moko,

I saw your post
regarding Submit-it .

You are welcome to place a link to
your blog or website on our high
traffic website for free. See:

http://www.quickregister.net/infowizards


We have a specific category for Submit-it .
Your listing will be indexed in the search
engines under Submit-it . It will
also be a permanent link.

Thank you,

John,

http://www.quickregister.net
Free Search Engine Submission Service.

7:01 am  
Anonymous Anonymous said...

Cool blog, interesting information... Keep it UP Free cherry slots games cantilever bone nose rhinoplasty diy rhinoplasty paintball tournament videos clips http://www.eczema-5.info/Dentalinsurance.html Caribee backpacks

1:41 am  
Anonymous Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. » » »

2:48 pm  
Anonymous Anonymous said...

Keep up the good work » » »

1:32 am  
Blogger Unknown said...

saya menjual ornament asli dari phantom of the opera berminat ubungi....08563228062

8:08 am  

Post a Comment

<< Home