13 September 2005

Cerita dari FKM UI # 6

Ada satu mata kuliah di FKM yang sebenarnya tidak tepat disebut "mata kuliah" karena isinya bukanlah perkuliahan. Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) adalah kegiatan dimana kami mahasiswa diharapkan dapat belajar langsung dari masyarakat dan institusi pelayanan kesehatan di lapangan akan pelayananan kesehatan dan problematikanya di lapangan.

Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang ditugasi untuk mempelajari masalah kesehatan dan pelayanannya di area tertentu, yang waktu itu adalah sebatas area kelurahan.  Prakteknya kami kemudian mengumpulkan data dan informasi, mengolahnya dan kemudian mencoba menyimpulkan masalah apa yang terjadi di area 'garapan' masing-masing kelompok.

Kami juga melakukan survey kecil tentang kesehatan di kelurahan tempat kami ber PBL. Mungkin ini pendekatan yang terlalu akademis untuk mengenal permasalahan kesehatan masyarakat, tapi rasanya mengasyikkan juga mencoba mengaplikasikan hal-hal yang telah diajarkan pada kami di kelas.

Pada PBL II yang dilakukan pada semester-semester akhir, kegiatan yang kami lakukan adalah melakukan 'intervensi' yang sesuai dengan permasalahan yang ditemukan sewaktu PBL I. Intervensinya bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan yang diidentifikasikan di setiap kelurahan.

Secara tidak langsung, melalui PBL kami dilatih berorganisasi. Kami saling membagi tugas, bahu membahu melakukan pendekatan pada staf puskesmas, staf kelurahan dan masyarakat umum. Kami juga saling berbagi suka dan duka. Mulai dari menerima 'semprotan' orang-orang yang merasa kegiatan kami hanya menyusahkan mereka sampai ramai-ramai bergadang berjamaah di rental komputer jalan Margonda untuk menyelesaikan laporan.

Proses PBL membekali kami akan pentingnya team work. Ini belakangan terasa ketika beberapa dari kami mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan di tingkat Universitas. KKN bukan kegiatan wajib bagi mahasiswa UI. Sebagian besar dari mahasiswa FKM yang mengikutinya tidak mengalami kesulitan menempuh kegiatan KKN dan bahkan menjadi ketua-ketua kelompok dari tim yang anggotanya berasal dari berbagai fakultas yang ada di UI. Pada KKN terasa sekali bahwa mahasiswa FKM lah yang paling siap menghadapi masyarakat secara langsung. Kebanyakan mahasiswa dari fakultas lain hanya bisa plonga-plongo bingung harus melakukan apa ketika terjun dalam kegiatan ini.

PBL juga menyiratkan banyak kenangan pada kami. Anak gadis kelas 3 SMP di rumah ketua RT tempat kami berkumpul kala PBL I cukup manis parasnya. Berdesir dada kami para pria satu kelompok kala memandang si gadis. Saat kami datang lagi ke rumah pak RT itu dalam PBL II setahun kemudian, si gadis sudah tidak gadis lagi. Sudah jadi istri orang dan punya dua anak kembar pula. Rupanya bukan hanya kami yang berdesir dada kala melihat si gadis.

Memasuki semester-semester akhir kuliah, kami diminta untuk memilih satu peminatan dari 6 peminatan yang ada waktu itu. Sebagian besar memilih peminatan K3. Peminatan PKIP entah kenapa paling sedikit peminatnya kala itu yaitu hanya 2 orang saja. Saya sendiri memilih peminatan K3. Dalam benak saya waktu itu peminatan ini menawarkan hal yang jelas, dan jenis pekerjaan yang bisa ditekuni setelah lulus nanti sudah cukup dikenal publik.

Walaupun sudah agak lebih mengarah pada kedalaman materi, kami masih diperkenankan mengambil mata-mata kuliah pada peminatan lainnya. Saya pribadi senang sekali masih bisa membuka wawasan pada mata ajaran lain di luar peminatan K3, sehingga khasanah pengetahuan masih bisa berkembang terus.

Kemudian masuklah ke masa pembuatan skripsi. Sebagian diantara kami dapat mengerjakannya dengan lancar sehingga kemudian bisa menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun tepat. Ada 8 orang dari seluruhnya 42 mahasiswa di angkatan kami yang bisa lulus dalam waktu 8 semester. Salut kami pada mereka atas keberhasilannya.

Persahabatan kami sesama mahasiswa satu angkatan cukup erat. Demikian pula dengan adik kelas kami. Bahkan sewaktu intensif ngebut mengerjakan skripsi, beberapa teman ikut bergadang di rumah orang tua saya untuk mengetikkan bab demi bab draft skripsi saya.

Waktu itu pembimbing skripsi belum tentu dosen yang berasal dari jurusan yang bersangkutan. Jadi kadang nggak nyambung antara topik yang diteliti mahasiswa dengan pengetahuan dan keilmuan sang dosen. Pembimbing saya kebetulan baik orangnya. Walaupun tidak banyak kontak dalam rangka pengerjaan skripsi, beliau tidak banyak tanya-tanya saat ujian, bahkan membantu saya menjawab pertanyaan penguji lainnya. Makasih ya pak!

Kebanyakan dari kami seangkatan akhirnya lulus dalam waktu 9 semester, dan diwisuda pada awal semester genap di bulan Februari. Saya sendiri akibat terlena dengan berbagai kegiatan dan aktifitas terpaksa tidak bisa lulus dalam waktu 9 semester walaupun ujian skripsi sudah dilakukan pada bulan Februari. Jadilah saya lulusan S1-5 alias S1-4 plus (satu tahun).

Sayang sekali beberapa dari teman seangkatan tidak bisa menyelesaikan pendidikan di FKM UI, menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Ada yang sudah 'gugur' di semester 1, semester 2, dan ada pula yang hanya tinggal menyelesaikan skripsinya saja. Entah apa halangannya.


#### bersambung di bagian terakhir #####

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Where did you find it? Interesting read » »

8:38 pm  

Post a Comment

<< Home