13 September 2005

Cerita dari FKM UI # 7 - Habis

R e s o n a n s i

Semua orang yang pernah diwisuda di UI seharusnya pernah mendengar lagu "Gaudeamus Igitur" dinyanyikan oleh mahasiswa baru kepada para wisudawan.

Ini sebagian liriknya:

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post jucundum juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Vivat academia
Vivant professores
Vivat membrum quodlibet
Vivat membra quaelibet
Semper sint in flore

Dalam bahasa Inggris, artinya kurang lebih adalah sebagai berikut:

Let us rejoice therefore
While we are young.
After a pleasant youth
After a troublesome old age
The earth will have us.

Long live the academy!
Long live the teachers!
Long live each male student!
Long live each female student!
May they always flourish!

Artinya kurang lebih berisi harapan agar semua komponen akademik dapat sukses dalam kehidupannya.

Lalu, apa makna gelar SKM yang kami sandang sebagai seorang lulusan FKM?
Apakah masa depan kami menjadi lebih cerah setelah melalui pendidikan di FKM UI?
Apakah berguna pendidikan kami ini?

Alumni angkatan pertama program S1-4 di FKM UI kini berkiprah di berbagai institusi. Sebagian memilih mengabdikan dirinya kembali di FKM UI, menjadi pengajar adik-adiknya di program yang sama. Ada pula yang mengajar di Universitas lain yang ada di Jakarta. Sebagian memilih bergabung di departemen kesehatan, baik di pusat, maupun di dinas-dinas kesehatan daerah. Ada juga yang bergabung dengan PT Askes. Beberapa memilih aktif dalam LSM yang bergerak dalam dunia kesehatan.

Satu dua memilih menjadi karyawan perusahaan swasta seperti bank dan asuransi, dan mereka bisa sukses bersaing dengan lulusan fakultas lain. Salah seorang dari kami memilih profesi sebagai editor di sebuah media cetak. Ada pula yang berkesempatan bekerja di lembaga-lembaga internasional ternama di Indonesia.

Saya sendiri memilih untuk bergerak di bidang pendidikan. Walau pernah mencicipi dunia kerja profesional berdasi di kantor-kantor jangkung, bidang ini adalah 'habitat' yang terbaik buat saya. Pendidikan dan Kesehatan adalah modal dasar tegaknya sebuah bangsa. Turut membantu kejayaan bangsa adalah impian yang dapat dijalankan sejalan dengan mencari penghasilan dalam profesi ini.

Hanya saja pilihan profesi di bidang pendidikan haruslah siap menghadapi banyak kesulitan. Selain financial reward yang dihasilkan dari profesi ini tidaklah besar, Prof. Ascobat pernah berkata bahwa untuk berkarya di bidang pendidikan kesehatan masyarakat kita harus punya "Ausdauer", yaitu kemampuan untuk menjalani kesulitan dan kesusahan dengan kesabaran tinggi. Napas, energi dan komitmen kita haruslah sekuat baja dalam meniti karir di bidang ini. Kalau tidak, kita bisa mati frustasi.

Beliau mengilustrasikan bahwa dalam selama kariernya di FKM UI, ia telah mengajar hampir seluruh jajaran pejabat departmen kesehatan, dan ribuan stafnya di daerah-daerah. Apa ada bekas ilmu yang diajarkannya dan juga nilai-nilai moral yang diselipkannya pada mahasiswa? Kalaupun ada dampaknya, sulit sekali dilihat dan diukur.

Sudah puluhan bahkan ratusan lokakarya, ceramah, simposium, seminar, panitia ad-hoc, proyek, dan program penelitian serta kegiatan konsultansi yang dilakukannya untuk membantu Depkes dan institusi kesehatan lainnya. Apa dampaknya bagi kesehatan masyarakat Indonesia? Kalaupun ada dampaknya, sulit sekali dilihat dan diukur.

Sudah puluhan bahkan ratusan paper ditulisnya, dicopy dan disebarluaskan orang lain kepada banyak mahasiswa dan pejabat. Sudah ribuan kilometer ditempuhnya mengunjungi kantor dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan juga kantor pejabat untuk mencari data, menganalisis, menyimpulkan serta memberikan rekomendasi pemecahan masalah. Apa dampaknya bagi kesehatan masyarakat Indonesia? Kalaupun ada dampaknya, sulit sekali dilihat dan diukur.

Terakhir saya bertemu pak Ascobat di ruang kantor PKEK, ia bercerita panjang lebar tentang dunia kesehatan masyarakat di Indonesia. Tentang perjuangannya, tentang usahanya menabur garam di lautan. Tidak ada usaha yang sia-sia. Tuhan menilai pengabdian manusia tidak hanya dari hasil perbuatannya, tapi bahkan dari niat dan usahanya.

Umur kita terus melangkah tanpa penghadang. Kapasitas dan kemampuan otak dewasa kita terus tergerus sejalan dengan waktu. Tidak ada mesin waktu yang bisa mengembalikan jam biologis manusia. Teruslah berusaha, manfaatkan modal otot, otak, kesempatan dan waktu yang telah diberikan Tuhan untuk menjalani hal-hal yang baik.

Masih banyak cita yang dapat dicapai. Masih banyak kerja yang belum selesai. Masih ada waktu untuk berbenah.

Hanya diam dan pasrah yang membawa kesia-siaan.

 

#### habis #####

3 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. Chinaitlab testking mcse Allergic reaction to soy milk Land rover series 2 Child perfume vancouver liposuction prices philadelphia home appliances kevin is gay Exam questions mcse 70 292 brain dump Best accounting tutorial

2:41 am  
Anonymous Anonymous said...

membaca tulisan mas Dono, saya inget omongan prof Asco...Mau jadi aktivis kesmas, u harus punya long endurance !! alias napas panjang !! ternyata ngomongnya prof asco terbukti, saya hampir desperate, disindir bbrp kawan, dari dulu koq ngurusi PERSAKMI...hehehe
Trims MAs Don....

4:52 am  
Anonymous Palangkaraya2008 said...

Vivant omnes virgines!
Faciles, formosae
Vivant et mulieres!
Tenerae amabiles

2:48 pm  

Post a Comment

<< Home