12 September 2005

Cerita dari FKM UI # 5

Di kampus, ada juga mahasiswa yang berasal dari program lainnya. Mereka ini adalah mahasiswa program S1-2, S2, dan S3. Program S1-2 menerima calon mahasiswa dari mereka yang sudah lulus program Diploma dan ingin meneruskan pendidikannya menuju jenjang Sarjana. Tidak heran kalau sebagian dari mereka sudah tua-tua dari segi usia. Tidak jarang kami diolok-olok oleh mahasiswa fakultas lain sebagai anak fakultas yang 'bermutu' (bermuka tua). Sambil senyum kecut kami biasanya membalas dengan candaan lain, bahwa FKM itu singkatan dari Fakultas Ketok Magic. Tampang sejelek dan setua apapun bisa dipoles menjadi muda dan mulus lagi tanpa perlu dicat ulang.

Mereka ini, mahasiswa program S1-2, sudah banyak makan asam garam dunia pekerjaan, sedangkan kami dari program S1-4 masih Nol besar. Padahal banyak kegiatan perkuliahan yang menyatukan perkuliahannya diantara kedua varian ini. Jadilah kami sering hanya dapat melongo atau ngobrol sendiri saat dosen dan mahasiswa S1-2 berdiskusi tentang berbagai hal. Tapi mereka juga lucu-lucu. Ada teman yang sewaktu penataran P4 di awal perkuliahan kerjanya tiduran saja di bangku panjang dalam kelas. Panitia penataran P4 yang mahasiswa-mahasiswa tingkat 2 atau 3 tidak berani menegur mereka, wong umurnya sudah setua dengan ibu mereka! Takut kualat nanti.

Kadang, saking berbedanya atmosfir pembicaraan antara mahasiswa 'bermuda' (bermuka muda) dengan mereka mahasiswa 'bermutu', sering terjadi perang dingin di dalam dan di luar kelas. Mahasiswa S1-4 berkumpul di ujung belakang ruangan sementara mahasiswa S1-2 duduk di depan. Tapi di akhirnya semuanya lancar saja. Malah banyak cerita lucu dan menarik yang dapat dikenang dari interaksi kami selama itu. Bayangkan, dari satu angkatan mahasiswa FKM dari program S1-2 ketika itu, ada sekitar tiga puluhan yang berjenis kelamin wanita. Selama periode itu, lebih dari separuh dariwanita mahasiswa S1-2 yang yang hamil dan melahirkan dalam kurun dua tahun program pendidikan mereka. Kalau bisikan " Ada mahasiswi hamil" bisa menjadi bahan gosip heboh di fakultas lain, di FKM ini biasa saja. Di sini sudah adanya!

Selain mahasiswa dan dosen, ada juga penghuni lainnya di kampus FKM UI. Staf non-akademik jumlahnya mungkin hampir sebanding dengan staf akademik. Sayangnya, keberadaan mereka lebih sering terlupakan dan terpinggirkan.

Petugas perpustakaan bersahabat dekat dengan kami. Maklum, memang saat itu mahasiswa FKM belum begitu banyak dan kami-kami inilah yang sering duduk dan bikin bising ruang perpustakaan yang seharusnya senyap. Pak Muchtarom dan Pak Poniran dengan setia menunggu ruang pustaka yang terbagi dua. Kami tinggal mengacungkan kertas yang bertuliskan kode buku yang dicari lalu beliau berdua sigap mencarikannya di deretan rak-rak panjang di ruangan dalam. Ada juga mas Suratman yang semula bertugas mengoperasikan mesin fotocopy di perpustakaan. Bu Winda, bu Johartien, dan mbak Endang juga lama-kelamaan akrab dengan kami karena seringnya kami 'ngendon' dan menggosip di sana. Mereka selalu menyambut kami dengan antusias, mungkin juga sedikit sebal, karena kadang tingkah laku kami agak norak dan dan minta dilayani bagai orang penting. Saat pak Poniran dikabarkan meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, kami merasa sangat sedih dan kehilangan.

Selain mereka yang di perpustakaan, banyak staf penunjang lainnya yang kami kenal dan menjadi dekat dengan kami. Ada mbak Susi, mas Bambang, mas Hendra, mbak Tini, mas Supri, dan banyak nama lainnya menjadi teman-teman kami di FKM UI. Ada juga office boy kampus yang biasanya juga merangkap sebagai petugas kebersihan kelas. Mas Paryono misalnya adalah orang yang selalu setia membawakan air putih atau teh manis pada setiap dosen yang mengajar di kelas. Ia juga membersihkan sisa cemilan yang dibawa mahasiswa ke dalam kelas. Ia juga yang mengingatkan kami untuk keluar dari kelas kalau hari sudah sore karena ia perlu menguncinya agar tidak terjadi kehilangan. Walau berpendidikan tidaklah tinggi, mas Paryono masih bersemangat untuk melanjutkan pendidikan, sampai ia lulus persamaan SMA sewaktu kami sudah lulus dari FKM UI. Karena kami sering kongkow di kampus sampai sore, atau kadang juga menginap di kampus, para anggota satuan pengamanan (Satpam) adalah teman kami juga. Suka duka mereka kami ikut dengarkan. Kala kami menginap di kampus, kadang kami membawakan sebungkus dua bungkus nasi dari warung di pinggir jalan Margonda untuk mereka. Kasihan mereka. Biasanya perhatian kita pada mereka hanya muncul kalau ada kehilangan atau kejadian kriminal di kampus. Padahal mereka manusia juga yang perlu berkembang dan juga punya cita-cita.

Apalagi beberapa dari staf penunjang ini tidaklah terlalu baik nasibnya. Sebagian dari mereka selama bertahun-tahun hanya dapat bekerja dalam status sebagai pekerja honorer karena keterbatasan formasi pegawai negeri di Universitas Indonesia. Mereka melihat silih bergantinya mahasiswa masuk, kuliah, ujian, lulus, atau DO. Mereka melihat pula staf pengajar muda masuk, mengajar, tertimbun 'proyek', dan sedikit-sedikit menghilang dari kampus. Mereka melihat pula bermacam konflik, silang pendapat, heboh dan sepinya perkembangan FKM UI. Mereka pulalah yang pernah menjadi bahan refleksi pak Ascobat saat ia mengetahui bahwa banyak staf non-akademik di FKM UI yang mempunyai kadar HB yang lebih rendah dari standar normal karena hanya mendapat asupan energi yang tidak baik. Suatu ironi sangat perlu disingkapi karena terjadi di kampus FKM yang seharusnya memikirkan kesehatan karyawannya dulu sebelum memikirkan kesehatan masyarakat Indonesia!


#### masih bersambung lagi #####



0 Comments:

Post a Comment

<< Home