22 June 2005

Berhaji ala Jamaah Inggris (3) - Puncak ibadah Haji

Bagian 3 :

Mina - Arafah - Muzdalifah - Mina

Hari Jumat tanggal 8 Dzulhijjah yang bertepatan dengan tanggal 30 Januari 2004 Masehi, kami berangkat ke Mina. Sebenarnya pergi ke Mina pada hari ini tidaklah merupakan kewajiban dalam menjalankan ibadah haji, namun hanyalah Sunah saja. Pagi hari kami mandi dan mengenakan pakaian ihram, yang dilanjutkan dengan shalat sunat ihram. Niatpun dilafazkan Labbaik Allahumma Hajjan. Ya Allah kami penuhi panggilanMu untuk menjalankan ibadah Haji.

Dengan kendaraan sewaan kami berangkat ke Mina, yang ditempuh dengan waktu kurang dari 30 menit saja. Seluruh penghuni rumah yang kami tempati pergi berhaji waktu itu, yaitu kami, tuan rumah, bahkan pembantu-pembantunya juga turut serta. Kalimat talbiyah dikumandangkan kuat-kuat sampai suara kami serak.

Di Mina sebenarnya kami mempunyai jatah tinggal di Maktab yang tergabung dalam muasassah Eropa dan Amerika, yang letaknya jauh di ujung padang Arafah. Menurut cerita seorang teman dari Malaysia yang kebetulan tinggal di maktab itu, jaraknya ke tempat jumrah sekitar 6 kilometer! Namun ternyata oleh orang yang membantu kami selama di Mekah, kami ditempatkan di maktab jamaah ONH Plus (sekarang sebenarnya disebut Biro Perjalanan Ibadah Haji – BPIH Khusus) dari Indonesia. Letaknya kira-kira hanya 200 meter saja dari jumrah nomor 2 (Wustha), dan hanya dibatasi oleh jalan raya saja. Maktab ini tenda-tendanya dilengkapi dengan alas tidur berupa matras dari busa tipis di atas karpet, sehingga kita bisa beristirahat lebih nyaman. Hal ini berbeda dengan tenda standar yang hanya beralaskan karpet saja. Makanpun di sini diselenggarakan secara prasmanan, dengan fasilitas minuman dalam kotak dan air mineral yang tersedia secara melimpah, baik panas maupun dingin.

Di sana kami meng-qashar (memendekkan) shalat wajib kami tanpa men-jama' nya (menggabungkan dua waktu shalat). Sisa waktu kami pergunakan untuk beristirahat, mengaji, dan berdzikir. Kami juga berkesempatan melihat-lihat suasana di sekitar tempat jumrah dan sekeliling tenda kami yang waktu itu masih tidak terlalu ramai karena tidak semua orang berdiam di Mina pada hari itu.

Fasilitas yang disediakan pemerintah Saudi di Mina sebenarnya cukup memadai. Di setiap maktab tersedia toilet yang dilengkapi dengan fasilitas shower untuk mandi. Jumlahnya memang relatif kurang karena pada saat-saat 'peak hours' seperti sebelum waktu Subuh, antrian orang yang akan menggunakan kamar mandi bisa sampai 5-6 orang per kamar mandi. WC umum di luar pagar tenda juga tersedia, namun ini jumlahnya lebih terbatas lagi.

Kran-kran tempat air minum tersedia di banyak tempat. Beberapa kedai cepat saji sengaja dibangun pada tempat-tempat strategis yang mudah dicapai jamaah yang perlu untuk membeli makanan.

Yang agak disayangkan adalah kurangnya fasilitas pembuangan sampah yang tertutup. Hal ini menyebabkan sampah-sampah bertebaran dimana-mana, ditambah lagi dengan kurang disiplinnya sebagian jamaah yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Hal ini kontras sekali dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa 'kebersihan adalah sebagian dari Iman'.

Di dekat tempat jumrah tersedia beberapa tempat pencukuran rambut, dengan papan besar bertuliskan 'Potong Rambut' dan 'Barbar', selain tulisan berbahasa lainnya. Fasilitas pelayanan kesehatan juga terdapat di sekitar maktab, yang tersedia secara gratis bagi setiap jamaah.

Di dalam maktab ONH Plus dari Indonesia, kami beruntung bisa bertemu dengan beberapa wajah yang cukup familiar di mata kami melalui televisi Indonesia. Anwar Fuadi, Taufik Savalas, Ulfa Dwiyanti, dan Primus adalah sebagian artis Indonesia yang terlihat di maktab kami. Alhamdulillah, ternyata kehidupan artis tidak selamanya hanya terlihat glamour tanpa memikirkan kehidupan rohani.

Malam itu kami beristirahat penuh untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang kebetulan jatuh pada hari Sabtu keesokan harinya.

Esok paginya setelah sarapan kami bersiap untuk pergi ke Arafah. Lama kami menunggu bus yang akan mengantar kami ke Arafah. Teman-teman kami satu tenda yang berasal dari beberapa rombongan jamaah haji ONH Plus pun juga banyak yang menunggu lama sebelum berangkat. Hal ini terjadi karena terjadi kemacetan bus-bus yang mengangkut jamaah ke Arafah. Bayangkan saja, semua jamaah harus berangkat pagi itu ke Arafah untuk dapat masuk ke padang Arafah saat shalat Dzuhur.

Teman setenda kami dari kelompok sebuah perusahaan ONH Plus di Bandung akhirnya berangkat sekitar pukul 10.30 pagi setelah siap menunggu selepas Subuh. Kamipun akhirnya dapat naik kendaraan sekitar pukul 11.00 pagi hari. Kendaraan yang kami tumpangi adalah sebuah bus jenis 'coaster' dengan kapasitas sekitar 24 tempat duduk. Kendaraan itu sendiri sudah cukup tua usianya, terlihat dari banyaknya karat di penjuru mobil.

Berhubung rombongan kami jumlahnya membengkak, yaitu dicampur dengan anggota keluarga dan pembantu di rumah tuan rumah tempat kami menginap di Mekah, ditambah lagi dengan beberapa warga negara Saudi kenalan sang tuan rumah, mobil itu pun tidak mencukupi kapasitasnya. Terpaksa beberapa anggota jamaah, termasuk saya, naik ke atas atap mobil itu agar kami semua dapat berangkat bersama-sama.

Ketua rombongan kami dari Inggris, pak Muchtar, sangat mengkhawatirkan keselamatan kami yang duduk di atas atap mobil karena teriknya panas matahari pada siang itu. Dengan pengetahuannya sebagai seorang dokter, dan juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ditambah pengalamannya sebagai pengelola jamaah haji dari Indonesia selama bertahun-tahun, beliau khawatir bahwa kami akan dapat terkena 'Heat Stroke'. "Jangan sampai haus", demikian petunjuk yang ia berikan pada kami. Waktu itu kami merasa himbauannya agak mengada-ada karena saya sangat yakin akan ketahanan fisik kami siang itu, apalagi duduk bersama saya di atap mobil seorang anggota jamaah kami warga negara Malaysia dari Birmingham, yang juga seorang dokter spesialis anestesi yang praktek di Inggris. Walau demikian, kamipun bersiap untuk perjalanan ke Arafah ini dengan minta supply air dan buah-buahan dari anggota rombongan yang duduk di kursi di dalam mobil.

Perjalananpun dimulai. Sebagian besar jamaah haji yang tinggal di Mina sudah berangkat lebih dulu dari kami. Sebagian lainnya sedang menunggu bus, atau bahkan sebagian sudah mulai berjalan kaki menuju Arafah. Dari atap bus kami melihat pemandangan yang cukup mengharukan, dimana beberapa kali terlihat beberapa jamaah yang sudah cukup berumur atau tidak kuat fisiknya terpaksa didorong di atas kursi roda untuk mencapai padang Arafah. Masya Allah, saya bayangkan, berapa lama diperlukan waktu berjalan kaki dari Mina ke Arafah? Apalagi di atas kursi dorong?

Kalimat talbiyah kami kumandangkan kuat-kuat dari atap kendaraan. Ya Allah…. Kami datang memenuhi panggilanMu….Kami datang untuk berhaji di padang Arafah… Mudahkanlah kami dalam perjalanan ini ya Allah….

Sopir kendaraan yang kami tumpangi, atas dasar saran dari putra tuan rumah yang kami tumpangi di Mekah yang ikut dalam rombongan kami, menempuh jalur memutar yang lebih jauh untuk mencapai Arafah. Ternyata keputusan ini tepat karena kemacetan yang kami hadapi selama perjalanan tidaklah terlalu berat dan kami dapat sampai padang Arafah sebelum masa shalat Dhuhur.

Pemandangan yang terlihat dari atap kendaraan yang kami tumpangi sangatlah menarik. Kamera digital yang saya bawa tidak pernah lepas dari genggaman tangan untuk siap digunakan apabila ada pemandangan yang perlu direkam sebagai kenang-kenangan. Mulai dari pemandangan ribuan tenda putih berderet rapi, ratusan orang dengan pakaian ihram berjalan kaki, sampai iring-iringan kendaraan berbagai jenis berlomba cepat untuk sampai ke padang Arafah pada waktunya. Rasanya kami ini pergi sebagai Cowboy yang duduk di atas kuda besi ber-merk Toyota atau Mitsubishi, karena perjalanan ini sedemikian uniknya bagi kami, melewati padang luas yang gersang, di tengah teriknya panas matahari.

Makin lama panas terik makin terasa, apalagi dalam kondisi ber-ihram kami dilarang untuk menggunakan tutup kepala. Kebetulan beberapa anggota rombongan membawa payung yang bisa digunakan dan tidak terlarang bagi kami menggunakannya. Tapi apa daya, payung yang ada ternyata adalah payung 'fancy' bagi anak-anak yang tidak terlalu efektif menghadang terjaman cahaya matahari. Air minum yang tersedia sudah hampir habis, sementara nampaknya perjalanan masih cukup jauh. Beberapa penumpang bus dari kendaraan lain yang ada di sisi kiri-kanan kendaraan kami juga kehausan, dan mengisyaratkan pada kami untuk memberikan air pada mereka. Melihat itu, kami melontarkan beberapa botol air mineral yang kami miliki pada mereka. Namun sayang, karena bus masih bergerak, upaya itu tidak sepenuhnya berhasil.

Semangat untuk membantu sesama muslim yang pergi berhaji sangat terlihat sewaktu perjalanan ini. Di tengah kemacetan yang terjadi, dari sebuah mobil boks beberapa orang sibuk membagikan kotak-kotak berisi air mineral bagi siapapun yang membutuhkannya secara gratis. Alhamdulillah, kendaraan kami pun mendapat bagian dua kotak besar air dari mereka.

Perjalanan ini semakin terasa berat, panas semakin menghujam, kemacetan tambah terasa. Beberapa kendaraan nekat menempuh bahu jalan, yang menimbulkan kepulan debu berterbangan ke udara. Satu dua kendaraan mesinnya kepanasan dan terpaksa berhenti di pinggir jalan. Di tengah kepadatan arus menuju Arafah dengan yang ditandai dengan penuhnya bus, coaster, atau kendaraan pribadi, kami juga melihat beberapa mobil pribadi dengan penumpang satu orang yang duduk tenang dengan kaca full tertutup dengan AC yang menyala kuat. Mungkin ini cobaan penglihatan dari Allah agar kami tidak berfikir negatif, atau iri hati pada mereka. Masih banyak jamaah lain yang tidak senyaman kami, terpaksa duduk atau berdiri berhimpit-himpit di atas bus rombongan mereka. Kami masih diberi kesempatan untuk duduk santai dengan relatif aman berpegangan pada besi penutup atap kendaraan.

Akhirnya, kami melihat tanda batas padang Arafah. Kendaraan yang boleh masuk ke kawasan Arafah hanyalah jenis bus dan coaster yang memiliki ijin masuk ke sana. Kendaraan pribadi diperintahkan petugas untuk parkir di lahan-lahan kosong yang ada di dekat padang Arafah. Namun demikian terlihat beberapa kendaraan pribadi yang bisa lolos dan parkir di pinggir jalan di dalam padang Arafah.

Akhirnya kami sampai di maktab kami, yang ada di belakang bukit Jabal Rahmah. Di sana kami juga ditempatkan pada maktab jamaah ONH Plus dari Indonesia. Terlihat bahwa persiapan di padang Arafah lebih baik daripada di Mina. Begitu masuk kompleks maktab, kami disambut dengan umbul-umbul persis seperti yang dapat terlihat dalam kesenian lenong betawi, dan juga spanduk-spanduk dari berbagai kelompok perusahaan perjalanan haji ONH Plus dari Indonesia.

Fasilitas yang ada di padang Arafah ini mirip dengan yang ada di Mina. Bedanya adalah ternyata beberapa tenda dilengkapi dengan kasur busa (spring bed) sebagai alas tidur, sedangkan sisanya hanyalah menggunakan alas busa seperti yang kami temui di Mina. Kebersihan di Arafah ini rasanya lebih baik bila dibandingkan dengan di Mina, demikian pula kondisi toilet dan sarana berwudhu.

Saat adzan Dhuhur dikumandangkan, kami baru memasuki tenda kami. Ternyata masing-masing kelompok penyelenggara haji melalukan shalat wajib menurut kelompoknya masing-masing. Dalam rombongan kami, kami tidak mempunyai ustadz sendiri yang bisa menjadi Imam dan memberikan khutbah Arafah. Setelah dirundingkan bersama, kamipun berbagi tugas. Shalat Dhuhur dan Ashar secara jama' dan qashar akan dipimpin oleh pak Shah, sahabat kami dari Malaysia. Beliau juga akan menyampaikan khutbah Arafah, yang bahannya kami ambil dari buku bimbingan haji yang kami bawa. Setelah itu dzikir bersama akan dipimpin oleh pak Muchtar, pimpinan rombongan kami. Saya sendiri bertugas membacakan doa setelah dzikir bersama. Kebetulan salah seorang jamaah kami ada yang membawa fotocopy doa yang disampaikan oleh ulama kondang Indonesia, KH Abdullah Gymnastiar. Doa itu akan kami baca dan diaminkan oleh seluruh anggota rombongan.

Maka mulailah kami menjalankan shalat Dhuhur dua rakaat, disambung dengan shalat Ashar 2 rakaat pula yang dilakukan secara jama' takdim. Setelah selesai, khutbah Arafah pun disampaikan oleh Imam shalat kami. Sang Imam yang berasal dari Malaysia itu berusaha keras untuk membacakan teks khutbah yang tertulis dalam bahasa Indonesia. Namun tidak apa, kekhusu'an kami tidak berkurang karena itu, inti khutbah itu tetap dapat kami pahami dan dapat dicerna dengan baik isinya.

Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang dulu sebelum mulai berdzikir dan berdoa bersama-sama, karena waktu makan siang sudah hampir selesai. Kalau kami terlambat makan, mungkin kami tidak akan sempat makan siang hari itu. Makanan dan minuman di Arafah sangat mencukupi dan memenuhi selera, sehingga hilang rasa lapar dan haus kami setelah makan siang. Selintas terlihat teman-teman setenda kami dari rombongan Bandung yang yang tadi berangkat lebih dulu dari Mina, baru sampai di Arafah siang itu karena terjebak kemacetan di jalan.

Setelah semua anggota jamaah siap, dimulailah dzikir bersama kami. Kalimat puji-pujian bagi Allah, Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir kami luncurkan dari lidah kami. Allah terasa sangat dekat dengan kami pada saat puncak ibadah haji ini. Tiada Tuhan selain Allah, dan tiada sekutu bagi Nya. Untuk-Nya lah segala kerajaan dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak lupa pada Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat beliau kami lantunkan kalimat pujian dan doa-doa, atas jasa beliau menyampaikan perintah Allah pada umat manusia.

Doa-doa lain pun kami panjatkan, dengan bantuan fotocopy teks doa AA Gym ketika beliau berdoa bersama di Arafah pada musim haji yang lalu.

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat pada kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Doa-doa yang ditulis AA Gym sungguh sangat menyentuh hati. Dan karena tertulis dalam bahasa Indonesia, seakan doa itu langsung bersumber dari hati kami sendiri. Terima kasih ulama kami AA Gym, doa yang pernah kau ucapkan sangat berarti bagi kami. Semoga rahmat Allah terus tercurah pada engkau sehingga dapat terus mengalirkan dakwahmu pada umat.

Doa demi kebaikan diri pribadi kami, orang tua, keturunan, tetangga serta sahabat kami panjatkan. Tidak lupa pula doa kami panjatkan pada para ulama, guru kami, serta para pemimpin kami, agar mereka dapat diberikan cahaya dan jalan yang baik dalam membawa kami ke situasi yang lebih baik.

Tidak terasa air mata kami meleleh di pipi, dan jatuh di atas kertas tulisan doa itu........


Rabbana aatina fiddunya hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqina adzabannaar. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan hindarkan kami dari siksa neraka.

Ya Allah, berikanlah kami rejeki dan kemampuan untuk datang kembali memenuhi panggilanMu di padang Arafah ini di lain waktu. Ya Allah kabulkanlah segala permohonanku.

Demikianlah, waktu yang tersisa sampai menjelang waktu maghrib kami habiskan untuk berdzikir dan berdoa, karena waktu inilah yang paling mustajab, bahkan mungkin waktu yang terpenting seumur hidup kita. Bagaimana tidak. Puncak haji adalah Wukuf di Arafah mulai dari waktu Dhuhur sampai terbenam matahari, yang waktunya kurang dari 6 jam saja. Dan kewajiban kita pergi berhaji hanyalah sekali dalam seumur hidup. Jadi bisa disimpulkan bahwa waktu Wukuf di Arafah ini adalah waktu terpenting dalam hidup kita. Subhanallah.

Selepas dari doa bersama di tenda kami, banyak rombongan jamaah haji lain yang berdoa sambil berdiri menghadap arah Ka'bah. Kamipun kadang ikut bergabung dengan mereka, untuk berdoa bersama memohon pada Allah SWT. Sambil kadang menangis tergugu-gugu, menyadari kekhilafan kami selama ini, dan mohon dibukakan ampunan Allah sebelum ajal datang menjemput.

Saya pribadi mempunyai pengalaman batin yang amat kuat saat wukuf ini. Kala doa bersama di dalam tenda tadi, secara umum saya hanya membacakan doa dari AA Gym saja. Namun entah kenapa pada penghujung doa saya meluncurkan doa spontan dari lidah. Ya Allah, berikanlah padaku ilmu yang berlimpah. Namun janganlah Engkau memberikan aku ilmu itu, jika itu hanya mendatangkan Riya atau kesombongan padaku.

Terus terang saja, hati saya tergetar hebat setelah membaca doa itu, dan dalam hati agak menyesali mengapa sampai terlontar doa itu di waktu Wukuf yang sangat mustajab ini. Saya takut doa itu betul-betul didengar oleh Allah, dan saya takut studi saya saat ini di Inggris dapat gagal karena doa itu. Namun setelah saya pikirkan dalam-dalam, sampailah saya dalam kesimpulan bahwa doa itu sangat tepat adanya. Saya tidak ingin mendapat ilmu dan gelar tinggi, tapi hanya menjadi orang yang sombong, yang merasa lebih dari orang lain. Saya bersyukur telah mengucapkan doa itu dan sangat yakin doa itu telah didengar oleh Allah SWT. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang tawadhu, yang merasa kecil dihadapanmu ya Allah.

Sebelum langit gelap pada tanggal 9 Dzulhijjah itu, kami menyempatkan diri berfoto bersama sebagai kenangan seumur hidup.

Setelah masuk waktu maghrib, kami bersiap untuk pergi ke Muzdalifah kemudian terus ke Mina. Niat kami sebenarnya untuk memenuhi sunah nabi untuk shalat Maghrib dan Isya di jama' dan qashar di Muzdalifah. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan kami tidak bisa turun dari kendaraan selama di Muzdalifah, akhirnya kami putuskan untuk shalat Maghrib dan Isya di Arafah sebelum berangkat.

Setelah makan malam, rombongan kami berangkat ke Muzdalifah dengan bus coaster yang kali ini kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan saat kami berangkat ke Arafah pagi harinya. Namun demikian, tetap saja kapasitasnya kurang memadai untuk rombongan kami sehingga kami harus duduk berdesak-desakan, bahkan ada yang harus berdiri sepanjang perjalanan.

Perjalanan menuju Muzdalifah berjalan cukup lancar, dan walaupun agak tersendat bila dibandingkan dengan jalur jalan lain yang khusus diperuntukkan untuk bus-bus pemerintah Saudi bagi sebagian besar jamaah haji. Memang jalur bagi kendaraan pribadi dan bus yang disewa rombongan secara khusus adalah berbeda dengan jalur bus standar pemerintah Arab Saudi.

Sampai di Muzdalifah sekitar pukul 9 malam. Di sana kami duduk menggelar tikar, beristirahat sambil mengumpulkan batu-batu untuk keperluan melontar jumrah keesokan harinya pad pada hari-hari Tasyrik lainnya. Pemerintah Arab Saudi telah mempersiapkan kondisi di Muzdalifah dengan menyebarkan tanah dan batu-batuan yang sudah dipecah kecil-kecil di tanah terbuka, pelataran, ataupun emperan jalan sepanjang Muzdalifah sehingga upaya mencari batu menjadi sangat mudah. Dalam waktu singkat terkumpullah batu dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk persiapan melontar jumrah.

Kami mabit (berdiam) di Muzdalifah sampai lewat tengah malam, bersama ribuan jamaah lain dari berbagai negara. Sekali lagi kami rasakan bahwa aspek kebersihan tidaklah diperhatikan oleh sebagian jamaah haji sehingga tempat itu terasa kumuh. Orang tidur sembarangan di berbagai tempat, bahkan di saluran pembuangan air hujan yang kebetulan sedang tidak ada airnya. Sampah berserakan di mana-mana, bahkan terlihat bangkai seekor domba yang dibiarkan begitu saja di sebuah tempat.

Setelah lepas tengah malam, kamipun naik kendaraan lagi untuk pergi ke Mina. Namun ternyata perjalanan kali ini sangatlah berat. Untuk menempuh jarak beberapa kilometer saja dari Muzdalifah ke Mina ternyata memerlukan waktu lebih dari 4 jam karena kemacetan berat terjadi. Namun demikian, walau dalam situasi berdesak-desakan kami pun tertidur karena lelahnya.

Sampai di Mina menjelang Subuh, kami langsung pergi melontar jumrah Aqabah yang letaknya hanya sekitar 400 meter dari tenda kami. Memang melontar jumrah di waktu ini bukanlah pada waktu terbaik yang disarankan Rasulullah. Namun rombongan kami ingin mencoba langsung pergi ke Masjidil Haram untuk shalat Idul Adha dan Tawaf Ifadah. Ternyata melontar jumrah pada pagi itu memang tergolong mudah, karena sebagian besar jamaah haji masih tertahan di Muzdalifah ataupun di tengah jalan menuju Mina. Melontar 7 kali batu kerikil kecil dapat kami laksanakan dengan mudah sambil bertakbir ketika melontarkan setiap batu.

Setelah shalat Subuh, kami pun mandi dan bergegas pergi ke Masjidil Haram. Ternyata mencari kendaraan untuk pergi ke Masjidil Haram bukanlah pekerjaan yang mudah di saat-saat seperti ini. Hukum ekonomi dimana ketika permintaan banyak dan penawaran sedikit, menimbulkan tingginya harga yang diminta oleh pengemudi taksi. Bahkan salah pahampun terjadi dengan pengemudi taksi, dimana kami mengira ongkos ke masjidil haram adalah 30 riyal per bus untuk jarak yang tidak terlalu jauh padahal ia meminta 30 riyal per kepala, padahal rombongan kami ada 11 orang ketika itu. Akhirnya kami membayar lebih dari sekitar 70 riyal untuk jasa transport kami dari Mina ke Masjidil Haram.

Tidak semua anggota rombongan kami ikut pergi ke Masjidil Haram pagi itu karena anak-anak kecil dalam rombongan kami masih sangat lelah akibat perjalanan panjang kami dua hari terakhir ini. Diputuskan anak-anak tinggal di Mina untuk istirahat dengan orang tua mereka. Namun seorang anak putri dari ketua rombongan kami nampaknya kuat untuk terus diajak pergi hari itu, sehingga ikutlah pagi itu ia pergi ke Masjidil Haram.

Kami tiba di Masjidil Haram saat iqamah untuk shalat Ied dikumandangkan. Ikutlah kami dalam barisan shalat Ied di sana, walaupun tidak semua orang ikut melaksanakannya. Sewaktu shalat Ied yang sunah itu, sebagian orang tetap terus melaksanakan Tawaf dan Sa'i diantara orang yang bershalat.

Selesai shalat, kami pun ber-Tawaf Ifadah yang kemudian dilanjutkan dengan Sa'i dari bukit Safa ke bukit Marwah. Subhanallah, ribuan orang luruh dalam Tawaf dan Sa'i hari itu sehingga kamipun terkadang sulit untuk berjalan karena padatnya suasana. Terutama saat Sa'i dimana kemacetan terjadi sepanjang jalur yang disediakan baik di lantai atas maupun bawah akibat padatnya jamaah haji yang ingin segera dapat bertahallul di hari itu.

Alhamdulillah, kamipun dapat menyelesaikan tugas kami pada hari itu pada pukul 11 siang, yang artinya kami membutuhkan waktu hampir 4 jam untuk Tawaf dan Sai. Setelah memotong rambut untuk bertahalul, hilanglah larangan ihram kami dan kamipun boleh berganti pakaian biasa.

Segera setelah itu kami kembali ke Mina untuk beristirahat. Panas terik siang hari tanggal 10 Dzulhijjah, di hari raya Idul Adha itu membuat kami kelelahan. Segera setelah sampai di tenda, kamipun shalat Dhuhur dan Ashar, lalu segera jatuh tertidur pulas di tenda masing-masing.

Menjelang waktu Ashar, saya terbangun karena panggilan istri saya seraya mengacungkan handphone kami. "Mas, ada telepon dari Jakarta!". Saya pun kaget dan terlompat bangun dari tidur. "Kamu nggak apa-apa Don?" itu suara kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Ternyata ia ingin memastikan bahwa kami sehat-sehat saja, karena mereka khawatir mendengar berita musibah yang menimbulkan banyak korban manusia di kawasan jumrah Aqabah. Saya kaget bukan kepalang disertai rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin kami sampai tidak tahu musibah itu terjadi, padahal tenda kami menginap letaknya hanyalah sekitar 400 meter dari jumrah Aqabah? Suara helikopter dan ambulans memang sering terdengar meraung-raung minta diberikan jalan pada para pejalan kaki, namun karena seringnya kami mendengar suara ambulans itu kami tidak terlalu memperhatikan lagi kalau ternyata ada musibah besar terjadi di dekat tenda kami.

Akhirnya kami tahu, jika pagi itu ada sekitar 250 jamaah haji, 56 diantara jamaah dari Indonesia yang meninggal dunia akibat jatuh, terdesak, dan terinjak-injak jamaah lainnya ketika melontar jumrah Aqabah hari itu. Inna lillahi wa innaillaihi rojiun.

Suasanya sekitar tempat melontar jumrah memang terkesan sangat semrawut. Walaupun pemerintah Arab Saudi telah menempatkan banyak petugas untuk mengatur jamaah haji yang akan melontar jumrah, tetap saja terjadi kesemrawutan yang sangat memungkinkan terjadi musibah, apalagi ditambah dengan panasnya terik matahari di lantai atas jalan layang tempat jumrah.

Secara matematis saja sudah sulit membayangkan aktifitas melontar jumrah ini jauh dari resiko. Jumlah jamaah haji yang ada tahun ini lebih dari dua juta orang. Anggap saja agar mudahnya jumlahnya persis 2 juta orang. Tempat melontar jumrah bisa dari bawah atau dari lantai atas jembatan layang, jadi dari tiap tempat 1 juta orang akan melontar jumrah setiap harinya. Dalam waktu satu hari penuh, mungkin 20-an jam diantaranya dipergunakan orang untuk melontar jumrah, jadi setiap jam ada 50 ribu jemaah melontar pada jumrah yang sama. Dapat dihitung bahwa dalam satu menit ada 850-an jamaah atau setiap detik ada 14-an jamaah yang melontar jumrah itu. Padahal satu orang tidaklah hanya melontar jumlah satu kali saja, melainkan 7 kali. Itu belum dihitung lemparan yang gagal mengenai jumrah, dan harus diulang lagi. Perhitungan matematis ini tentu saja mengasumsikan contant flow rate dari jemaah yang pergi melontar, yaitu jamaah yang melontar jumlahnya sama saja dari waktu ke waktu selama waktu yang kita perhitungkan. Padahal tentu saja tidak demikian. Ada masanya orang agak enggan pergi melontar, yaitu saat matahari bersinar terik, dan ada masanya orang berbondong-bondong datang hendak melontar jumrah. Besarnya jumlah orang yang melontar jumrah ini menimbulkan resiko terjadinya musibah cukup tinggi.

Melontar jumrah adalah perlambang kita melempar setan yang mengoda keimanan kita. Namun sikap banyak jamaah haji saat melontar jumrah kadang-kadang tidak bisa dimengerti. Sebagian dari jamaah mencoba melontar jumrah dari jarak yang sangat jauh dari jumrahnya itu sendiri, yang tentu saja kemungkinan lontarannya tidak mengenai jumrah, atau bahkan mengenai jamaah lain sangat besar. Sebagian lain terlalu bersemangat ingin melempar sehingga bergerak maju ke tengah kerumunan jamaah lainnya dengan sekuat tenaganya. Sebagian lagi tidak ingin terpisah dari kelompoknya sewaktu melempar jumrah, sehingga terkadang mendorong dan mendesak jamaah lainnya yang sedang melontar jumrah. Ada kawan yang berkata nampaknya saat jumrah kita tidak saja melontar setan, tapi bahkan melontar bersama-sama dengan setan! Masya Allah……

Beberapa jamaah yang sudah bertahalul mensiasati resiko terkena batu sewaktu melontar jumrah dengan mengenakan sorban sebagai pelindung kepala mereka dari lontaran batu nyasar. Nampaknya bagi sebagian orang hal ini efektif, tapi sebenarnya masalah terbesar bukanlah dari resiko terkena lontaran batu, melainkan dari kemungkinan terserimpet, terdorong, dan terinjak jamaah lainnya. Sorban juga tidak terlalu efektif, karena seorang teman saya terkena lontaran batu nyasar pada giginya! Sorban sudah jelas tidak akan banyak bermanfaat melindungi gigi dari lontaran batu.

Sampah yang berserakan di sekitar area jumrah juga menimbulkan resiko kaki terserimpet tas plastik, atau sampah lainnya. Demikian juga orang yang duduk beristirahat saat menunggu rekannya melontar jumrah, atau sekedar menunggu waktu (mabit) di sekitar jumrah menimbulkan tersendatnya aliran massa sehingga menimbulkan resiko terjadinya musibah. Ditambah lagi dengan banyaknya orang yang berjualan di sekitar sana, membuat suasana lebih ramai dan padat lagi.

Lokasi maktab kami yang berada sangat dekat dengan ketiga jumrah membuat kami leluasa mengatur strategi waktu pelemparan jumrah. Jika terlihat area sekitar jumrah sepi dan kami masih perlu melontar jumrah, segera kami bersiap dan pergi melontar jumrah. Kemudahan ini tidaklah dapat dirasakan oleh jamaah lain yang tidak seberuntung kami mendapatkan maktab yang dekat dengan jumrah. Sebagian besar jamaah Indonesia tinggal jauh di kawasan belakang bukit, dimana untuk mencapainya perlu menembus sebuah terowongan yang terkenal dengan nama "terowongan Mina". Terowongan ini pernah menjadi sorotan orang seluruh dunia karena pernah pula menjadi tempat musibah orang terdesak dan terinjak-injak dimana ratusan nyawa manusia melayang ketika itu.

Mereka yang tinggal jauh dari tempat jumrah, tidaklah bisa melihat suasana ramai atau sepinya tempat jumrah. Mereka hanya mengira-ngira apakah jamaah lainnya juga akan melontar pada saat yang sama atau tidak. Banyak orang rasanya memperkirakan bahwa melontar pada saat yang dianjurkan (yaitu ba'da shalat Dhuhur) akan sangat sulit karena banyak orang yang akan melontar saat itu. Namun hal itu tidak terbukti, karena kenyataannya pada saat-saat itu malah terkesan agak sepi. Mungkin kebanyakan orang berpikiran sama untuk menghindari saat-saat yang diperkirakan ramai sehingga menghindari saat-saat yang dianjurkan tersebut.

Demikianlah pelontaran jumrah kami lakukan setiap hari pada hari-hari Tasyrik itu, dimana kali itu ketiga jumrah dilempar dengan batu kerikil kecil sebanyak masing-masing tujuh kali, dimulai dari jumrah Ula, Wustha, dan Aqaba. Kami membagi rombongan kami menjadi beberapa kelompok kecil yang melontar jumrah secara bergantian. Jika kelompok lain menggunakan bendera berwarna-warni sebagai penanda agar anggota kelompoknya tidak tersesat akibat terpencar karena ramainya suasana, kami menggunakan bunga plastik yang diikat di atas sepotong kayu. Inilah kelompok kami, kelompok bunga (Wardah dalam bahasa Arab).

Dalam hari-hari Tasyrik ini, aktivitas kami di dalam maktab adalah beristirahat, mengaji, berdzikir, dan menambah teman dengan mengobrol panjang lebar dengan teman satu tenda. Rekan satu tenda kami ada yang berasal dari Bogor, dan bercerita bahwa salah seorang putranya yang berusia 23 tahun baru saja meninggal beberapa bulan sebelumnya karena terkena penyakit demam berdarah. Saya pun terhenyak mendengarnya karena salah seorang keponakan saya yang masih bayi juga baru meninggal dunia karena penyakit yang sama, satu hari sebelum kami berangkat haji.

Ada pula kenalan lain yang baru maju menjadi caleg sebuah partai politik di pulau Kalimantan. Ada juga dokter spesialis dari Makasar, pengusaha real estate dari Samarinda, serta seorang artis ternama dari Jakarta. Karena adanya artis ini pula-lah tenda kami selalu ramai didatangi ibu-ibu dan kaum putri lainnya yang ingin berfoto bareng dengan dia.

Kebetulan salah seorang jamaah haji yang ada dalam rombongan kami dari Mekah adalah seorang yang mempunyai kemampuan pijat refleksi. Dari hasil ngobrol-ngobrol dan membantu memijat satu-dua orang, ternyata makin lama makin banyak orang yang mendatangi tenda kami untuk minta dipijat dan dimintai pendapatnya tentang berbagai hal. Bahkan ada seorang artis lainnya dari Jakarta yang khusus datang dari maktab sebelah untuk mengunjunginya. Alhasil tidur kami pun agak terganggu karena hal-hal yang saya sebutkan di atas.

Setelah bertahalul sesudah melakukan Tawaf Ifadah, banyak orang yang memutuskan untuk menggunduli rambutnya. Hal ini disebabkan oleh adanya anjuran Rasulullah SAW untuk memendekkan rambut kita. Di dekat maktab kami tersedia tukang cukur resmi yang bertugas menggunduli rambut jamaah. Dengan membayar 15 riyal rambut kita dapat dipangkas habis dalam waktu singkat. Saya sendiri termasuk orang yang memutuskan untuk memangkas habis rambut saya di sana. Seumur hidup yang saya ingat, baru kali ini saya tidak mempunyai rambut lagi di atas kepala!

Selain dari tukang pangkas 'resmi' itu, banyak juga orang yang saling memotong rambut masing-masing. Banyak juga yang memotong rambutnya dengan cara yang agak 'mengerikan' yaitu dengan menggunakan silet untuk mengerik rambut. Banyak orang yang kepala gundulnya terlihat terluka akibat proses ini. Pinjam-meminjam silet juga praktek yang mudah ditemui, yang tentu saja menimbulkan resiko menularnya penyakit-penyakit yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya seperti Hepatitis B dan HIV/AIDS.

Ada pula yang lebih modern saling memotong rambut dengan menggunakan mesin pangkas rambut listrik atau bertenaga baterai. Salah seorang artis Indonesia yang terkenal dengan acara "Tok-Tok-Wow", bahkan sempat terlihat membuka gerai potong rambut di samping toilet maktab. Ia mengaku menggunduli lebih dari 10 kepala dalam waktu 1 jam secara gratis! Saya sendiri juga berperan sebagai pemangkas rambut selama di Mina, walaupun hanya memangkas biasa saja dan bukan menggunduli. Rambut ketua rombongan kami dan brother Muhammad Richard keduanya menjadi sasaran tangan saya memendekkan rambut mereka.

Sampai tanggal 12 Dzulhijjah siang hari, kami memutuskan untuk ber-nafar awal, yaitu meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam hari itu. Setelah melontar jumrah, kami pun berkemas kembali ke penginapan kami di kota Mekah.

Ternyata perjalanan pulang ke penginapan juga bukanlah hal yang mudah. Kendaraan yang ada hanya sedikit, dan sebagian besar dari mereka hanya mau mengantarkan jamaah ke Masjidil Haram saja. Akhirnya saya dan istri terpaksa pulang ke penginapan dengan berjalan kaki, di tengah terik matahari Mina sampai ke kota Mekah.

Bersambung ke bagian 4.

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. » »

6:41 pm  

Post a Comment

<< Home