22 June 2005

Berhaji ala Jamaah Inggris

Sebuah Catatan Perjalanan Ibadah Haji

Bagian 1 :

London - Jedah Airport

Jika niat dan panggilan untuk menunaikan perintah Allah pergi ke tanah suci untuk beribadah haji sudah datang, Insya Allah semua hambatan dan rintangan dapat dilalui dengan kesabaran dan takwa. Itulah garis besar hikmah dan pelajaran yang dapat kami ambil dari perjalanan kami menempuh ibadah Haji pada musim haji tahun 1424 Hijriah yang lalu.

Kami berkumpul di bandara Heathrow, London dari berbagai pelosok negeri Inggris. Ada anggota rombongan yang berasal dari Scotland, Bristol, Birmingham, Leeds, Norwich bahkan Isle of Wight, sebuah pulau kecil di selatan Inggris. Kami sudah sempat berkenalan dengan beberapa orang anggota rombongan sewaktu diadakan 'manasik' mini beberapa minggu sebelum keberangkatan, namun ada pula yang baru saat itu kami berkenalan. Jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam kelompok kami ini total berjumlah 16 orang, termasuk diantaranya 4 orang anak perempuan yang semuanya berusia di bawah 6 tahun.

Di bandara, kami melihat beberapa calon jamaah haji (bukan rombongan kami) yang sudah menggunakan pakaian Ihram sejak dari Bandara Inggris. Rombongan kami sendiri sepakat tidak mengenakan pakaian ihram dari kediaman masing-masing di Inggris. Kami hanya bersiap dengan mandi bersih dari rumah, dan berniat untuk mengenakan pakaian ihram serta shalat sunat ihram di bandara Cairo, tempat kami stop over selama beberapa jam. Hal ini dipilih atas dasar pertimbangan praktis karena kami tidak ingin kedinginan selama perjalanan dari rumah masing-masing ke bandara Heathrow, yang waktu itu masih di penghujung bulan Januari yang dinginnya masih menusuk tulang.

Sebenarnya keberangkatan rombongan kami termasuk kurang persiapannya. Selain dari manasik mini yang pernah diselenggarakan beberapa minggu sebelumnya di kota Birmingham, kami tidak sempat membicarakan segala sesuatunya secara langsung. Hanya satu dua diskusi lewat e-mail pernah terlontar diantara kami, calon jamaah haji Indonesia yang berada di Inggris. Bahkan, kami belumlah mempunyai ketua rombongan (Amir) yang pasti untuk mengkoordinir perjalanan kami ini. Barulah di Bandara, salah seorang diantara kami diberitahu tahu bahwa ia diminta untuk menjadi ketua rombongan kami selama perjalanan haji ini.

Setelah membicarakan beberapa persiapan terakhir, antri-lah kami di check-in counter. Karena kami tergolong terlambat untuk check in, kursi yang kami dapati di dalam pesawat sudah terpencar-pencar. Bahkan anak-anak juga mendapat nomor kursi yang terpisah nomor kursinya dari orang tuanya. Namun Alhamdullilah, setelah masuk pesawat Egypt Air, dengan kebaikan hati penumpang lain dan juga awak pesawat, akhirnya anggota jamaah dari setiap keluarga dapat diusahakan untuk duduk bersama-sama dengan keluarganya.

Sebelum pesawat bergerak, hati kamipun mulai tergetar…. Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaik kalaa syariikalakalabbaik….. Ya Allah.. kami datang memenuhi panggilanmu ya Allah…..

Perjalanan udara ke Cairo pun berjalan mulus tanpa hambatan. Namun tanpa diduga, cobaan yang cukup berat ternyata menghadang di bandara Cairo. Seperti diungkapkan di atas, termasuk dalam rombongan kami 4 orang anak kecil, yang 2 orang diantaranya adalah putri-putri kembar dari keluarga bapak Purtojo yang baru selesai dari bertugas di sebuah perusahaan pembuat pesawat terbang. Ternyata Visa Haji untuk pergi ke Saudi Arabia yang ada di paspor keluarga Purtojo hanyalah mencantumkan 1 orang anak sebagai 'dependent' orang tuanya.

Mungkin kesalahan ini terjadi sewaktu proses pengajuan visa di kedutaan besar Saudi di London, yang menganggap jumlah anak yang diajukan hanya satu orang. Mungkin juga pihak yang membantu kami mengurus Visa lalai dalam mengajukan surat-surat dan dokumen yang diperlukan dalam pengurusan Visa untuk keduanya. Memang kedua putri manis tersebut wajahnya bak pinang dibelah dua. Selintas sulitlah dibedakan antara keduanya. Namun demikian, kamipun alpa dengan tidak mengecek kembali status Visa semua anggota jamaah kami saat paspor dibagikan di bandara. Memang kami baru mendapat paspor dari pihak yang membantu kami mengurus visa haji dari kedutaan Saudi di London pada saat bertemu di Heathrow Airport pada pagi itu.

Petugas airport dan Egypt Air tidaklah membolehkan adanya calon penumpang pesawat yang tidak mempunyai Visa masuk ke Saudi Arabia. Tentu saja hal ini menimbulkan kebimbangan dan kepanikan seluruh rombongan kami, karena bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan seorang anak untuk tidak pergi ke Saudi karena tidak ada Visanya? Ditambah pula bahwa seorang anggota rombongan kami yang wanita 'dititipkan' sebagai mahram dari keluarga Purtojo. Jadi bila masalah Visa ini tidak beres, keluarga Purtojo dapat batal berangkat ke tanah suci, ditambah pula dengan jamaah wanita tersebut.

Setelah lama menunggu kebijaksanaan petugas di bandara Cairo, akhirnya kamipun dipanggil petugas. Dr. Muhktaruddin, selaku Amir (ketua) rombongan kami, saya selaku bendahara rombongan, dan pak Purtojo selaku orang tua anak yang bersangkutan diajak diskusi oleh petugas yang bernama Amin Afifi (dapat dilihat dari badge nama yang digunakannya). Ia mengungkapkan bahwa sang anak yang tidak punya Visa itu bisa tetap pergi ke Saudi, tapi pihak airlines (Egypt Air) akan memperoleh denda dari pemerintah Saudi karena mengangkut penumpang tanpa Visa yang sah. Pihak Egypt Air meminta kami meninggalkan uang deposit sebesar 3000 Saudian Riyal (sekitar £500 atau Rp. 7,5 juta), yang nantinya bila ternyata tidak jadi didenda oleh pemerintah Saudi dapat diambil kembali di bandara Cairo dalam perjalanan kembali dari ke London.

Kami setuju untuk membayar uang deposit itu, dengan catatan bahwa sang anak pasti dibolehkan masuk ke Saudi Arabia dan tidak akan dideportasi oleh pihak imigrasi di bandara Jedah. Sang petugas memastikan bahwa pemerintah Saudi tidak akan mendeportasikan orang yang sudah masuk ke bandara Jedah, karena saringan Visa ini sudah dilakukan oleh masing-masing airlines. Jadi kalau kita tidak punya Visa masuk ke Saudi Arabia, pihak airlines pasti menolak kita untuk bisa check in masuk pesawat terbang. Khusus untuk kami, petugas Egypt Air ini berusaha memberikan dispensasi karena kasusnya cukup unik.

Setelah mendapat kepastian ini, kamipun menunggu lagi proses selanjutnya. Cukup lama kami menunggu, dan waktu menunggu ini kami pergunakan untuk sekali lagi berbersih diri, dan mengenakan pakaian Ihram. Ternyata sulit juga membiasakan diri mengenakan dua helai pakaian tanpa berjahit ini. Ada perasaan kosong saat mengenakan pakaian ini. Subhanallah, Allah memang ingin menunjukkan pada kita, bahwa kita harus meninggalkan semua atribut duniawi kita saat pergi haji. Tidaklah berharga harta kita di hadapan Allah, saat menghadapNya kita semua sama dan sederajat, tanpa dibedakan merek dan model pakaian. Yang membedakan kita hanyalah takwa kita di hadapan Allah.

Setelah shalat sunah Ihram 2 rakaat, kamipun istirahat, menunggu proses Visa dan keberangkatan pesawat.

Menjelang waktu keberangkatan pesawat, ternyata pesawat ditunda keberangkatannya selama beberapa jam. Amin, petugas Egypt Air itu, memanggil kami lagi dan menyampaikan berita baru. Uang deposit ternyata tidak perlu ditinggal di bandara Cairo. Uang akan dititipkan pada petugas Egypt Air yang ikut berangkat ke Jedah. Jika tidak ada denda yang dikenakan ke Egypt Air, maka uang akan dikembalikan langsung di bandara Jedah. Hal ini cukup melegakan kami, karena akan jauh memudahkan proses nantinya.

Kemudian ia ganti meminta pertolongan pada kami. "I've helped you, right?" katanya, "Now you have to help me". Kami pun bertanya apa gerangan yang harus kami berikan pertolongan pada si petugas ini. Pesawat yang sedianya kami naiki ternyata sudah overbooked. Dan kami diminta untuk mencari 2 orang dari rombongan kami untuk dipindah ke pesawat lain yang akan berangkat lebih dulu. Ia menjanjikan bahwa di bandara Jedah nanti kami akan sampai tidak jauh berbeda waktunya sehingga rombongan kami akan tetap utuh. Kamipun sepakat, dan kami minta pak Shah (dokter Warga Negara Malaysia yang ikut dalam rombongan kami) dan pak Taufik (mantan karyawan IPTN yang sekarang bekerja di Isle of Wight, Inggris) untuk bisa pindah ke pesawat tersebut. Mereka pun setuju.

Setelah semua dipersiapkan, dan uang jaminan diserahkan, ternyata ada perkembangan baru. Semua anggota rombongan akan dipindahkan ke pesawat yang berangkat sekitar satu jam lebih awal dari jadwal pesawat kami semula. Kami dipersilahkan untuk bergegas siap berangkat lebih awal. Perlu diceritakan bahwa dalam pesawat kami semula dari London, ada banyak jamaah lain yang pergi haji juga, diantaranya adalah jamaah haji kelompok warga Malaysia yang berjumlah kurang lebih 25 orang. Mereka semua tidak dipindah dan tetap pada pesawat yang dijadwalkan semula.

Akhirnya kamipun boarding ke pesawat menuju Jedah, dengan pesawat boeing 737 yang jauh lebih kecil dari pesawat kami semula Boeing 777. Kamipun menahan kantuk agar tidak terlewatkan masa untuk melafazkan niat berhaji atau berumrah (tergantung niat kita untuk haji Ifrad atau Tamattu) di Miqat sekitar 15 menit sebelum pesawat mendarat di Jedah. Haji Ifrad adalah pergi melaksanakan haji dulu baru berumrah, dan haji Tamattu adalah pergi melaksanakan umrah dulu baru berhaji. Dengan berhaji Ifrad, calon haji tidak dikenai kewajiban membayar Dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing atau domba, namun cukup berat karena harus dalam kondisi ihram terus selama masa sampai di Mekah sampai selesai bertahalul selepas melontar jumrah Aqabah dan tawah Ifadah. Walau badan lelah dan mata mengantuk, kami tahan sekuatnya agar sah perjalanan kami ini, dengan mengucapkan niat di Miqat.

Saat awak pesawat memberitahukan dalam bahasa Arab dan Inggris bahwa pesawat sudah dalam posisi Miqat (tempat yang ditentukan Rasulullah untuk berniat Haji atau Umrah), dengan lantang kamipun melafazkan niat ber-umrah dalam rangka berhaji dengan cara Tamattu: Labbaik Allahumma Umratan!

Niat sudah diucapkan, pakaian Ihram sudah dikenakan, larangan Ihram sudah berlaku. Ya Allah, sucikan hati kami bagai putihnya kain ihram yang kami kenakan ini. Berikan pada kami kemampuan dan keikhlasan untuk beribadah pada Mu, ya Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.


Bersambung ke bagian 2

0 Comments:

Post a Comment

<< Home