04 June 2004

Pemimpin Pilihan Nurani

Pemilihan Umum Presiden RI 2004 sudah di depan mata. Lima pasang calon presiden dan wakil presiden sudah ditetapkan dan sudah melakukan kampanye dengan berbagai cara pada seluruh rakyat Indonesia. Kini kita dihadapkan pada pilihan, siapa yang akan kita pilih menjadi pemimpin kita untuk periode ini.

Bagi umat muslim, sosok pemimpin ideal dapat dilihat pada diri Rasulullah Muhammad SAW. Secara umum, ia mempunyai empat karakteristik utama: Siddiq yang artinya jujur atau benar, Amanah yang artinya dapat dipercaya, Tabligh yang artinya komunikatif, dan Fathanah yang artinya cerdas dan berpengetahuan. Keempat kriteria umum ini merupakan dasar yang harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin Indonesia kelak.

Jujur (Siddiq) adalah kunci utama sebagai pemimpin. Kejujuran merupakan nilai yang harus selalu kita junjung tinggi. Rakyat Indonesia tidaklah terlalu bodoh untuk dapat dibohongi. Kebohongan suatu ketika akan terungkap seperti kata pepatah ‘Serapat-rapat menyimpan bangkai akhirnya akan tercium juga’.

Jujur ini juga harus berarti jujur pada diri sendiri, karena yang dapat menilai derajat kejujuran kita hanyalah Tuhan pencipta kita dan hati nurani kita sendiri. Sang pemimpin harus dapat jujur mengevaluasi dirinya dari waktu ke waktu dan menilai kekurangan dan kelebihan pada dirinya, dan terus berusaha mengurangi kekurangannya serta mengembangkan kelebihan yang dimilikinya.

Pemimpin kita juga harus dapat dipercaya (Amanah). Kepercayaan ini amat berat. Ia akan mengemban amanat lebih dari 200 juta rakyat Indonesia. Dengan kekuasaan yang dimilikinya kelak, ia berpotensi untuk membawa bangsa kita ke arah kebaikan atau bahkan mungkin ke arah keburukan.

Menjaga kepercayaan rakyat ini amatlah berat. Selain dengan kejujuran, kepercayaan rakyat ini juga dapat ditumbuhkan dengan melakukan perbuatan sesuai dengan perkataan. Janji-janji yang ditebar saat kampanye harus dapat dilaksanakan.

Kecerdasan dan pengetahuan (Fathonah) wajib dimiliki oleh pemimpin kita. Pemimpin kita kelak paling tidak harus memiliki wawasan yang luas pada berbagai bidang. Ia harus mampu pula bernegosiasi dengan pemimpin dari negara lain, dan juga mampu mengajak masayarakat mencapai tujuan kita dengan baik. Namun kecerdasan dan pengetahuan tidak harus diukur dengan gelar akademis, karena gelar tidak akan berarti apa-apa tanpa pengamalan ilmu yang kita miliki.

Sikap rendah hati dan ingin belajar terus menambah ilmu sepanjang hidup haruslah ada pada hati setiap pemimpin.

Kemampuan untuk berkomunikasi (Tabligh) dengan rakyat yang dipimpinnya juga merupakan hal kunci. Visi yang besar dan baik dari sang pemimpin tidak akan dapat dipahami oleh para pembantu pemimpin dan masyarakat umum secara luas jika ia tidak mampu mengkomunikasikannya dengan baik. Sang pemimpin harus dapat meyakinkan para pembantunya, lawan politik, dan masyarakat umum bahwa kebijakan yang diambilnya mempunyai landasan yang kokoh, dan merupakan langkah terbaik yang perlu dilakukan.

Presiden pertama kita, Ir. Sukarno, adalah orator ulung yang mampu menyihir khalayak umum dengan pidato-pidatonya yang membakar semangat nasionalisme. Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, tangkas berdebat dan menjawab sanggahan baik dari partainya lawan maupun dari partainya sendiri dengan jawaban yang logis dan cerdas.

Selain dari itu, dalam Al Quran banyak disebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan.

Yang terpenting tentu saja pemimpin kita haruslah orang yang bertakwa, seperti disebutkan dalam surat Al Maidah (5) ayat 51: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Surat Al A’raf (7) ayat 3: Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-padaNya (yang membawa kepada kesesatan). Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

Pemimpin kita haruslah dapat membawa umat ke arah kebaikan. Dalam surat At Taubah (9) ayat 23 Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Dan juga pada surat Al Anbiyaa (21) ayat 73: Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

Pemimpin kita haruslah mampu bersikap adil pada siapapun. Dalam surat Al Maidah (5) ayat 8 disebutkan: ....... dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Adil ini juga harus diartikan memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk dapat menjalankan fungsi mereka dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Adil juga berarti adil dalam membagi waktu sang pemimpin pada keluarganya sendiri.

Kriteria terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah sanggup memberi contoh. Memberi contoh adalah cara memimpin yang terbaik. Pemimpin kita haruslah berjiwa optimis, berorientasi pada proses dan bukan pada hasil, dan tidak mudah putus asa. Pemimpin kita juga harus hidup bersih dari korupsi, tidak silau pada harta, menjauhi permainan politik kotor, berkata santun, dan terutama memelihara akhlaknya agar dapat ditiru oleh masyarakat. Pemimpin haruslah dapat dijadikan teladan oleh masyarakat, dijadikan panutan dan pemicu semangat untuk maju.

xxxxx

Mencari sosok pemimpin yang mendekati nilai-nilai ideal di atas memang sulit. Rimba belantara politik Indonesia seakan sudah menenggelamkan nilai-nilai ideal yang ada.

Ibarat menanam pohon, mencari pemimpin ideal haruslah dimulai dari mencari benih yang baik, dari induk yang telah teruji. Ribuan benih yang disemai tidak semua akan menjadi tunas yang tumbuh dan dapat berkembang lebih lanjut menjadi pokok yang kuat besar. Tumbuhan muda haruslah disiram, dijaga, dan diperhatikan pertumbuhannya, dijaga dari hama dan kekeringan. Setelah agak besar, ia harus dipindahkan dari tempat persemaian ke tempat pembesaran dan diberi pupuk dan makanan yang mencukupi. Akhirnya, akan kita dapati pohon dengan pokok kuat yang dapat menahan terjangan angin kuat.

Pengibaratan ini memberi ilustrasi betapa sulit untuk menumbuhkan calon-calon pemimpin kita di masa depan. Sektor kesehatan dan pendidikan kemudian menjadi faktor penting dalam mencetak generasi selanjutnya pemimpin kita. Sayangnya, penumbuhan calon pemimpin ini memakan waktu yang tidak pendek, dan juga harus didukung dengan sikap yang upaya keras dari kita semua.

Lalu, siapakah calon yang akan kita pilih pada pemilu mendatang? Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lebih baik kita kembalikan pada hati nurani kita, siapa kiranya calon yang paling cocok untuk dapat memimpin Indonesia di masa depan. Jika mungkin tidak ada satupun calon yang pantas mendapat nilai 100 untuk setiap kriteria di atas, carilah calon pemimpin dengan nilai tertinggi di antara calon lainnya. Insya Allah ridha-Nya akan bersama kita.