18 May 2004

Gerakan Moral Mahasiswa? Beneran?

Kebanyakan gerakan mahasiswa Indonesia mengklaim bahwa gerakan mereka non-partisan dan lebih pada ‘gerakan moral.

Tapi…. Silahkan lihat berita di bawah ini…………

 

 

------------------------------------------------------

Kompas Cyber Media: 18 Mei 2004

Menteri Kabinet Megawati Dalangi Unjuk Rasa Anti-Wiranto

 

Capres Partai Golkar Wiranto mengungkapkan, seorang pejabat terlibat dalam penggalangan aksi unjuk rasa mahasiswa tanggal 12 Mei 2004 lalu untuk mendiskreditkan dirinya melalui isu-isu pelanggaran HAM.

 

"Rapat persiapan aksi yang melibatkan mahasiswa dilakukan di rumah dinasnya," kata Wiranto pada Rapimnas Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) di Jakarta, Selasa (18/5).

 

Wiranto mengatakan, aksi-aksi mahasiswa yang digalang itu untuk menimbulkan citra buruk dalam rangka rivalitas capres. Aksi seperti itu merupakan bagian dari cara buruk yang ditempuh lawan politik untuk menjegal dirinya. "Padahal isu-isu yang disebarkan juga tidak benar," katanya.

 

Sementara itu, di kalangan pers beredar dokumen hasil pertemuan Kamis 6 Mei 2004 yang menyebutkan bahwa pertemuan dilakukan di rumah dinas seorang menteri. Pertemuan dilakukan di Kompleks Menteri dan Pejabat Tinggi Negara Widya Chandra Jakarta Selatan pukul 22.00-01.00 WIB.

 

Pertemuan diikuti 43 mahasiswa dari 26 elemen, rapat dibuka menteri yang menjadi tuan rumah dan diserahkan kembali kepada mahasiswa. Menteri itu antara lain mengatakan, "Rencana kalian rumuskan sendiri dan atur sendiri, tugas saya hanya menyediakan dana yang diperlukan".

 

Hasil rapatnya antara lain melakukan aksi pada Rabu 12 Mei 2004 pukul 13.00-16.00 WIB. Lokasi aksi di Bundaran HI menuju semanggi dan selanjutnya ke Gedung DPR/MPR.  Massa mahasiswa yang dikerahkan sebanyak 5.000 orang dari 26 elemen organisasi mahasiswa dimana  1 elemen terdiri atas 200 mahasiswa. Mereka bergerak dengan menggunakan 156 Metromini.

 

Sedangkan isu yang diangkat dalam aksi ini antara lain menolak Wiranto dan menuduh capres Golkar ini sebagai pihak yang harus bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM di kasus Trisakti, Semanggi dan Timtim.

 

Isu lainnya menentang tampilnya tokoh orde baru dalam pentas politik nasional serta menentang tampilnya militer sebagai capres dan cawapres. Dalam dokumen itu juga disebutkan dana yang disediakan untuk setiap elemen mahasiswa Rp16 juta sehingga total untuk aksi pada 12 Mei 2004 sebesar Rp410.350.000,-.

 

Rapat juga menentukan posko aksi tersebut untuk sementara di Jl Otista No.5 dekat Warteg Barokah Jakarta Timur. Selain itu rapat menetapkan sembilan tokoh mahasiswa sebagai "Tim 9", antara lain dari Unja, ABA, GMNU, Komunitas, Unbor, Famred dan Unas. Dokumen itu juga mencantumkan nama 26 mahasiswa berikut asal perguruan tinggi dan alamen organisasinya.

 

Sementara itu, Hilman, salah satu tamu yang disebut-sebut hadir dalam pertemuan itu dan tercantum sebagai anggota  "Tim 9" ketika dikonfirmasi Antara mengakui pertemuan itu ada dan dirinya hadir dalam pertemuan itu. "Saya hadir sebagai tamu. Saya diundang teman," katanya.

 

Namun dia menolak siapa yang mengundangnya untuk ikut dalam pertemuan itu. Dia hanya menyatakan, pertemuan tersebut adalah untuk membicarakan agenda bangsa.  Hanya saja dia enggan menjelaskan lebih lanjut ihwal pertemuan itu.(Ant/nik)